IDEALIS MAHASISWA
 

Halaman Utama | Arkib| Perbincangan| Halaman Undian| Halaman Tetamu

    Updated on Sunday, April 21, 2002 10:46 PM

Intelektual dalam Pembinaan Jati Diri Mahasiswa


Dato’ Jaafar Abdul Rahim, Majalah Minda, April 2002, Karangkraf,hlm.98

TULISAN ini berusaha mengungkapkan persoalan intelektualisme yang berkaitan dengan pembinaan jati diri mahasiswa. Intelektual hanyalah kata sifat yang menunjukkan kata sifat kepada hal-hal yang dikaitkan kepadanya. Katakan orang berkata bahawa seseorang mengemukakan gagasan yang intelektual. Ertinva orang berkenaan mengemukakan gagasan yang mengandung nilai ilmu dan nilai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kata intelektual adalah kata Inggeris yang sepadan dengan kata Melayu yang bermaksud cen-dekia. Sementara orang yang mengamalkan hidup yang intelektual disebut sebagai golongan intelektual atau cendekiawan. Dahulu kata cendekiawan berkait rapat dengan kata 'pendeta'. 'bestari', 'budiman' dan 'bijaksana'. Daripada kata-kata tersebut. lahir kata-kata 'kependetaan'. 'kebestarian' 'kepujanggaan' 'kebudimanan' dan 'kebijaksanaan'.

Semua kata ini merujuk kepada soal penggulatan ilmu dalam diri seseorang. Pendeknya sama ada mereka pendeta atau pujangga, mereka tetap mencintai ilmu dan kebenaran. Mereka tetap memberi nilai yang tinggi terhadap ilmu dan kebenaran.

Kini kata-kata itu berubah menjadi 'cendekia' dan 'cendekiawan' yang merujuk kepada hal yang sama. Cendekiawan merujuk kepada bukan sahaja golongan yang terpelajar, yang memiliki ijazah yang tinggi bahkan golongan yang mencintai ilmu dan kebenaran.

Jadi apabila kita menyebut intelektualisme, ertinya kita menggabungkan orang yang terpelajar dan ilmu yang disuburkannya. Ertinva ilmu yang mereka suburkan menjadi ideologi dan fahaman pada diri mereka, bahkan menjadi bahagian diri mereka.

Jika mahasiswa memiliki intelektualisme ertinya mereka golongan terpelajar yang menyuburkan ilmu sebagai fahaman mereka. Inilah kaitannya intelektualisme dengan mahasiswa.

Mahasiswa yang menyuburkan ilmu ini secara bersungguh-sungguh akan mendapati dirinya hidup dalam intelektual yang murni.

Mahasiswa jenis ini akan memancarkan nilai ilmu dan kebenarannya melalui: percakapannya, pe-mikirannya, penulisannya, pembawaannya yakni feelnya dan penerapan hidupnya

Pendek kata setiap detik hidupnya, biar dalam keadaan apa sekalipun akan memancarkan nilai ilmu dan kebenaran.

Jika kelima-lima asas ini dijadikan landasan dalam perjalanan hidup mahasiswa, nyatalah mereka sudan mempunyai jati diri. Jati diri, meskipun secara harafiahnya bermakna pengenalan diri. namun dalam konteks ilmu dan kebenaran ia mempunyai makna yang luas, mengatasi makna pengenalan dirL la bermaksud pengenalan diri yang berpadu dengan nilai ilmu dan kebenaran yang sangat berkaitan dengan lima pancaran intelektual yang sudah saya nyatakan.

Yang sangat berkaitan dengan intelektualisme dan jati diri mahasiswa ialah keterampilan intelektual. Keterampilan intelektual bermakna kemampuan atau kebolehan kita mengungkapkan ilmu dan kebenaran supaya ia dapat dinikmati dan diamalkan oleh mahasiswa sendiri atau masyarakat umumnya.

Jadi keterampilan intelektual sangat berkaitan dengan: kemampuan berbicara, kemampuan berfi-kir secara berkesaa kemampuan menulis secara berkesaa kemampuan mempengaruhi pemikiran masyarakat agar mereka akan 'berahi ilmu', kemampuan menyebati ilmu dan kebenaran dalam masyarakat agar ilmu dan kebenaranlah menjadi ikutan dalam kehidupan

Begitulah intelektualisme akan menjadi bahagian daripada diri mahasiswa jika kita ada sedikit usaha - going extra mile (G.E.M) dan memiliki sikap mental yang betul (positivemental attitude - PMA) yang senantiasa mencintai ilmu.

Tiada gunanya jika kita memiliki ijazah yang tinggi dan berjela-jela tetapi pada masa yang sama, sikap kita terhadap ilmu dan kebenaran senantiasa negatif.

Kata para ahli fikir, lebih baik memiliki ilmu yang sedikit yang digabungkan dengan sikap positif untuk menyuburkannya daripada memiliki banyak ilmu tetapi tidak berbuat apa-apa untuk menyuburkan ilmu itu.

Justeru itu kita dituntut untuk menghidupkan ilmu dalam diri sebagai proses kepada kelangsu-ngan hidup kita. Ertinya proses ini akan terus memantapkan jati diri kita Proses pengilmuan diri akan tetap hidup subur selagi ia ditekuni, dinikmati dan dimantapkan dalam diri.

Jangan kita biarkan hidup kita diwarnai dengan minda santai yang mementingkan hiburan picisan yang sangat sedikit sumbangannya dalam membentuk kehidupan yang intelektual.

Akhirnya biarlah kehidupan kita sebagai mahasiswa dibimbing oleh ilmu yang disesuaikan dengan kehidupan masyarakat. Biarlah kita terus menjadi 'pelita ilmu' kepada diri kita dan kepada masyarakat.

Adab dalam ilmu harus kita pelihara agar ia mendatangkan barakah dalam hidup kita sebagai intelektual sejati dan beriman. Insya-AlIah


Halaman Utama

 

Copyright ©2001 Idealis Mahasiswa, All Rights Reserved