MENGUJI
KESABARAN GERAKAN MAHASISWA INDONESIA
Oleh
: Aditya Perdana*
Mengikuti
perkembangan gerakan mahasiswa pada tahun 2001 ini, bagi saya
sebuah kenikmatan intelektual untuk sekedar melihat dan sedikit
menganalisa dari berbagai ilmu yang telah saya dapat di bangku
kuliah. Ditambah pula, saya ikut merasakan beratnya aksi-aksi
yang dibawa mahasiswa kali ini. Berawal dari tuntutan mahasiswa
agar DPR tidak takut mengusut keterlibatan presiden dalam
kasus Bulogate hingga kini terakhir usaha mempercepat Sidang
Istimewa MPR yang belum dapat dipenuhi MPR karena berbagai
alasannya. Sementara, di sisi-sisi pergerakan itu banyak kerikil-kerikil
yang menambah nuansa jalannya proses partisipasi politik ini,
seperti baru disadari dampak adanya kekerasan dari berbagai
demo dibawa elemen mahasiswa dan rakyat seperti berakibat
kerusuhan di Jawa Timur, perpecahan di gerakan mahasiswa sendiri,
atau perang pernyataan dari berbagai elite politik untuk bertarung
pula di arena baru bernama konflik eksekutif versus legislatif.
Kompleksitas permasalahan yang diidap gerakan massa sekarang
menjadi beban tersendiri bagi tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
Pertanyaannya adalah seberapa sabarnya gerakan mahasiswa saat
ini mengingat tipikal mahasiswa yang selalu idealis dan penuh
gejolak muda tetapi banyak halangan dan rintangan di depannya
untuk setidaknya memberi penyadaran publik akan nasib bangsa
ini yang masih belum bangun dari krisisnya ?
Sesungguhnya
tulisan ini terinspirasi oleh kolom yang ditulis --dosen saya
yang telah "menghilang" dan berguru dinegeri orang-Eep
Saefulloh Fatah dalam resonansi Republika (21/3), yang telah
memberi jawaban dari segala kebimbangan dan kegamangan pikiran
saya melihat kompleksnya dan runyamnya gerakan massa, khususnya
mahasiswa untuk memberi satu tujuan jelas usaha menurunkan
Gus Dur karena ketidakmampuannya lagi memimpin negeri ini.
Ternyata jawaban itu sederhana : politik sabar. Bagi Eep,
gerakan menurunkan Gus Dur adalah gerakan yang sebetulnya
masuk akal tapi sayangnya tergopoh-gopoh. Ketakutan Eep ditunjukkan
oleh maraknya gerakan ekstraparlementer yang memaksakan SI
MPR dipercepat, akan menjadi preseden buruk yang akan diikuti
oleh massa fanatik Gus Dur untuk menurunkan siapa saja. Tapi
ada satu jawaban yang saya pikir terlewatkan banyak orang
terutama elite-elite politik atau bahkan elite-elite mahasiswa
yaitu kesabaran untuk bermain dalam tahap yang konstitusional.
Bukan hanya itu saja, jauh sebelumnya Eep telah mengatakan
dalam sebuah Orasi Politiknya di Galeri Nasional tanggal 20
Agustus 20001 , menjatuhkan Gus Dur adalah makruh-tingkatan
hukum Islam-yang akan mendatangkan banyak persoalan baru tanpa
kepastian pemecahan soal-soal lain. Sehingga, bagi saya ada
beberapa hal yang sepakat dan tidak sepakat dengan dosen saya
ini, menimbang perjalanan Gus Dur yang telah memerintah hampir
dua tahun tanpa perubahan mendasar sekalipun.
Pertama,
gerakan mahasiswa sekarang bukanlah tanpa perhitungan dalam
menilai kinerja Gus Dur yang semakin lama semakintidak jelas
arahnya. Berbagai aktifitas yang dilakukan oleh BEM UI-untuk
sekedar melihat satu kelompok saja-telah lama melakukan penilaian
kritis terhadap pemerintahan Gus Dur. Berbagai aksi untuk
menyadarkan pemerintah dalam rangka penegakan supremasi hukum,
mengingatkan ancaman disintegrasi bangsa, atau bentuk seminar
melihat kinerja presiden pun dilakukan dalam kacamata para
pemuda, refleksi akhir tahun yang menjadi titik tolak mengkritisi
Gus Dur, dan pemberian Suharto Award II kepada Gus Dur akibat
ia masih mengidap penyakit yang dibawa Orde Baru. Peringatan
kepada DPR pun sering dilakukan terutama tindak-tanduk anggota
DPR yang sering "berdagang sapi", bahkan amandemen
UUD menjadi perhatian utama ketika ST MPR lalu. Jadi, bagi
saya gerakan mahasiswa bukanlah tergopoh-gopoh tanpa sistematis,
tetapi punya parameter jelas dalam tindakan khususnya usaha
menurunkan Gus Dur karena terbukti pemerintahan ini sudah
tidak efisien dalam rangka menyelematkan reformasi.
Tetapi,
benar ketika mahasiswa terjebak oleh paradigma "ketidaksabaran"
yang telah membudaya sejak zaman Orde baru lalu menambah banyak
persoalan baru dalam pergerakan sekarang. Ingin cepat menuntaskan
masalah terutama meminta Gus Dur mundur, ingin cepat hasilnya
dalam tuntutan kasus Bulogate dan percepatan SI MPR, atau
"membongkar paksa" kekuasaan yang dipegang Gus Dur
karena KKN-nya adalah segelintir persoalan yang dialami gerakan
mahasiswa sekarang. Bahkan bukan hanya itu saja, perbedaan
dalam visi yang dibawa mahasiswa hingga terjadinya beberapa
kali bentrokan menambah daftar panjang lemahnya suatu kekuatan
gerakan massa yang bernama mahasiswa. Karena saya juga meyakini,
upaya mengadu domba ---yang telah dilakukan Orde Baru - menjadi
alat yang ampuh untuk melemahkan gerakan massa secara sistematis
dan terencana. Dan jawaban ini adalah saya sepakat untuk mengatakan:
gusurlah mentalitas orde baru.
Kedua,
usaha menurunkan Gus Dur telah mengalami tingkat yang lebih
tinggi daripada makruh yaitu sunnah, menurut definisi Eep,
sangat dianjurkan bila korban kemanusiaan semakin besar jumlah
dan kualitasnya sementara arah transisi tak juga jelas. Kondisi
belakangan ini menambah derita panjang negeri ini terutama
para pengungsi akibat rentetan kerusuhan etnis yang tidak
terselesaikan. Setelah Ambon, Poso berlanjut ke Sampit, Palangkaraya
dan terakhir Kualakapuas. Kalaupun Gus Dur pernah mengatakan
daerah-daerah akan memisahkan diri jika ia mundur dari jabatannya
adalah logika terbalik yang semestinya disadari olehnya bahwa
kondisi saat ini sangatlah urgent untuk segera dicarikan solusi
terbaiknya, bukanlah mementingkan jabatannya dengan mempertaruhkan
daerah-daerah yang sedang berteriak merdeka. Sementara, transisi
demokrasi tidaklah semulus yang dibayangkan bila Gus Dur naik,
melainkan masih kuatnya primordialisme dan patron-klien yang
dibawa oleh kalangan pesantren direpresentasikan Gus Dur dalam
kapasitasnya sebagai kepala negara. Sehingga, berbagai ancaman
demokrasi yang ditunjukkan maraknya aksi vandalism, anarkhisme,
terorism menjadi ujian tersendiri bagi tegaknya demokrasi
di negeri ini. Dan akhirnya jelas, Gus Dur memang sangat dianjurkan
mundur atau diturunkan secara konstitusional dari jabatannya
bila tidak ingin menambah panjangnya daftar korban kemanusiaan.
Mengenai
kesabaran gerakan massa terutama mahasiswa , menurut hemat
saya, gerakan mahasiswa yang menginginkan Gus Dur mundur haruslah
lebih arif, bijaksana, tidak terpancing kekerasan, dan jitu
strateginya dalam arah pergerakan serta yang terpenting usaha
menjalin rekonsiliasi di kalangan mahasiswa harus terjadi.
Dan saya sepakat untuk berkata : mahasiswa pun mesti sabar
dalam memastikan arah pergerakan. Setidaknya saat ini saya
ingin melihat kesabaran mahasiswa dapat teruji lewat parameter
sederhana saya bila saja : (1) mahasiswa mampu mengikuti jalannya
mekanisme memorandum yang telah disepakati menuju SI MPR dengan
mengawasi tingkah polah anggota dewan yang masih bermental
Orde Baru akan negosiasi dan kompromi politik yang menguntungkan
segelintir pihak saja, bukan lebih memikirkan nasib rakyat.
(2) gerakan mahasiswa harus mampu mematangkan wacana aksi
dalam berbagai bentuk diskusi terbuka dengan masyarakat sekalipun,
serta terpenting mematangkan dan mensosialisasikan agenda
aksi berikutnya kepada seluruh mahasiswa dan masyarakat untuk
lebih mendapatkan dukungan riil akan gerakan massanya tersebut.
Ditambah pula agenda rekonsiliasi mahasiswa mesti dilakukan
untuk kembali menyatukan visi perjuangan bersama agar mahasiswa
mampu menghindar dari adu domba aktor politik. (3) dan terakhir
mahasiswa harus pula mampu membalikkan opini di seluruh tataran
wacana umum bahwa perpecahan mahasiswa tidaklah luput daripada
perpecahan elite politik yang ingin mencari kekuasaan. Hal
ini perlu dilakukan sebagai upaya melepaskan diri dari kebelengguan
politik mahasiswa sebagai penggerak moral tanpa ada intervensi
dan kepentingan partai politik manapun juga.
Menyadari
hal itu, sebenarnya saya telah terenyuh akan kebenaran yang
sesungguhnya karena hingga hari ini, gerakan mahasiswa seakan
berjalan cepat, taktis, penuh perhitungan, untuk tidak mau
terjebak dalam konflik horizontal dengan para demonstran,
konflik elite yang diuntungkan dengan adanya gerakan menjatuhkan
Gus Dur, tetapi telah melupakan kesabaran. Yang artinya mahasiswa
harus mau mengevaluasi kembali arah pergerakan, dan mau menjadi
orang-orang yang sabar mengikuti proses yang berlangsung-walau
dalam bentuk tarik-ulur kepentingan dan tuntutan-tetapi yang
utama adalah memberi sedikit wacana kepada masyarakat bahwa
memang kita harus bersabar, meskipun krisis ekonomi sudah
melilit di leher. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan proses
transisi demokrasi yang sedang kita jalankan jika tidak ingin
kembali ke sistem yang otoriterian. Dan mahasiswa pun harus
kembali menunjukkan keeksisannya untuk berdiri di depan. Karena
sesungguhnya anda, kita, kami, atau siapapun yang ingin bersabar
adalah orang-orang yang ingin menggusur mentalitas Orde Baru
dengan ketidaksabarannya.
Bagi
saya, gerakan mahasiswa bukanlah sekedar cowboy Shane yang
dilukiskan Arie Budiman (Sanit : 1999)2 yang pergi begitu
saja ketika penjahat telah ditangkap, tetapi lebih dari itu,
gerakan mahasiswa seperti Robin Hood yang sedang mengawasi
kerajaan yang zalim dengan perampokan pajaknya setiap saat
dan setiap waktu, bersimpati kepada rakyat kecil sambil menyusun
strategi di setiap luang waktunya, dan melakukan perlawanan
dan kritikan tajam kepada pemerintah sambil menunggu sang
Raja bernama Demokrasi yang sedang dalam perjalanan pulang.
Tegalalur, March 26, 2001
*
Aditya Perdana mahasiswa FISIP UI jur. Ilmu Politik angkatan
1999, aktivis Lingkar Studi Dialektika FISIP UI.
1
Orasi politik yang berjudul "Menimbang Gus Dur, Menimbang
Demokrasi."
2Arbi
Sanit, Pergolakan Melawan Kekuasaan, 1999.
Halaman Utama